Mahram for Women in the Implementation of the Hajj According to Classical and Contemporary Ulama

Hamdani Hamdani(1*)
(1) IAIN Bukittinggi
(*) Corresponding Author
DOI : 10.30983/alhurriyah.v6i2.4545

Abstract

Hajj is a worship required by Allāh to his servants who can carry it out. The obligation of this pilgrimage is general, covering all able-bodied Muslims, whether male or female. However, the obligation of this pilgrimage for women has raised many questions among the public. It is due to the hadith, which forbids women to travel alone without being accompanied by their husband or mahram. This study aimed to find out the opinions of classical and contemporary scholars about womens pilgrimage without being accompanied by their mahram. This research is normative analysis research in the form of library research. The method used is the method of content analysis with descriptive and comparative techniques. The study results reveal that there are differences of opinion among scholars regarding the departure of women to perform the pilgrimage, the differences of opinion occur in both classical and contemporary scholars. As with contemporary scholars, Muhammad bin Salih al-Utsaimin argues that a woman's pilgrimage without a mahram is legal, but her journey without a mahram is forbidden. Meanwhile, Yūsuf al-Qaradhāwī argues that the pilgrimage for women not accompanied by their mahram is legal and without sin.

 

Ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allāh kepada hambanya yang mampu untuk melaksanakannya. Kewajiban ibadah haji ini bersifat umum, mencakup semua umat Islam yang mampu, apakah itu laki-laki maupun perempuan. Namun kewajiban ibadah haji ini untuk perempuan banyak menuai pertanyaan dikalangan masyarakat. Hal ini disebabkan adanya hadits Nabi yang melarang perempuan untuk melakukan perjalanan sendirian tanpa ditemani oleh suami atau mahramnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat ulama klasik dan ulama kontemporer tentang perjalanan perempuan dalam pelaksanaan ibadah haji tanpa ditemani oleh mahramnya. Penelitian ini merupakan penelitian normatif analisis yang berbentuk library research. Metode yang digunakan adalah metode analisa isi (content analysis) dengan teknik deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian mengungkap bahwa terjadi perbedaan pendapat ulama tentang keberangkatan perempuan untuk melaksanakan ibadah haji, perbedaan pendapat itu terjadi baik pada ulama klasik maupun ulama kontemporer. Seperti pada ulama kontemporer, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berpendapat bahwa ibadah haji perempuan yang tanpa ditemani mahramnya secara fiqh sah, namun perjalanannya tanpa ditemani oleh mahram itu merupakan perjalanan yang diharamkan. Sedangkan Yūsuf al-Qaradhāwī berpendapat bahwa ibadah haji perempuan yang tanpa ditemani mahramnya secara fiqh sah dan tidak berdosa.

Keywords


Mahram, Hajj, Women

References


Abdullah Ibn Abdurrahman Ibn Shalih Ali Bassam. Taisir Al-`Allam. Riyadh: Dar al-`Ashimah, 2005.

Abu al-Walid Sulaiman Ibn Khalaf Ibn Sa`ad Ibn Ayyub al-Baji. Al-Muntaqa Syarah Muwaththa` Mālik Jil. IV, 160-161. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1999.

Al-Bukhārī, Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail. Al-Jami` Al-Shahih. Kairo: Al-Mathba`ah al-Salafiyah, 1989.

Al-Zuhaily, Wahbah. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh. Damaskus. Dar al-Fikr, 1999.

Allal al-Fasi. Maqashid Al-Syari’ah Al-Islamiyyah Wa Makarimuha. 5th ed. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1993.

B, Nurhayati, and Mal Al Fahnum. “Hak-Hak Perempuan Menurut Perspektif Al-Quran.” Marwah: Jurnal Perempuan, Agama Dan Jender 16, no. 2 (2017): 186. https://doi.org/10.24014/marwah.v16i2.4139.

Firqah Annajiyah Mansyuroh. “Perempuan Bepergian Tanpa Mahram (Studi Kasus Dekrit Kerajaan Arab Saudi Nomor M/134 Tahun 2019).” Kafa’ah Journal 10, no. 1 (2020).

Handayana, Sri, and Arif Budiman. “Pemahaman Proposional Tentang Mahram Sebagai Pendamping Dalam Perjalanan Perempuan.” Al-Fathin 3, no. 1 (2020).

Herianto. “Penggunaan Obat Pengatur Siklus Haid Ketika Masa Idah Menurut Syaikh Utsaimin.” Wasathiyyah; Jurnal Studi Keislaman 1, no. 2 (2020): 43–57.

“Https://Ihram.Co.Id/Berita/Quu6hi335/Saudi-Bolehkan-Wanita-Menunaikan-Ibadah-Haji-Tanpa-Mahram,” n.d.

Ibn Manzhur. Lisan Arab. 2nd ed. Beirut: Dar Ihya Turats al-Arabi, 1992.

Ibn Taimiyah, et al. Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram. Kairo: Maktabah al-Shofa, 2006.

Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur`an Al-`Adzim. Kairo: Dar al-Hadits, 2003.

Imam Ibnu Hajar. “Reinterpretasi Hukum Larangan Bepergian Tanpa Mahram Bagi Perempuan.” Al-Manahij; Jurnal Kajian Hukum Islam 6, no. 1 (2012).

Jum’ah, Ali. Al-Hajj Wa Al-‘Umrah; Asrar Wa Ahkam. Kairo: Markaz al-Dirasat al-Manhajiyyah wa al-Ma’rifiyyah, 2008.

Kartini Kartono. Pengantar Metodologi Research. Bandung: Alumni, 1998.

Ma’mur, Jamal. “Moderatisme Fikih Perempuan Yūsuf al-Qaradhāwī.” Muwazah 8, no. 1 (2016): 1–13.

Manshur Ibn Yunus Ibn Idris al-Bahuty. Syarh Muntaha Al-Iradat. Damaskus: Muassasah al-Risalah, 2000.

Muhamamd Irfai Muslim. “Historiografi Manajemen Haji Di Indonesia: Dinamika Dari Masa Kolonial Hingga Kemerdekaan.” Jurnal MD; Jurnal Manajemen Dakwah 6, no. 1 (2021).

Muhammad bin Idris al-Syafi’I. Al-Umm. Manshurah: Dar al-Wafa’, 2001.

Muhammad Ibn Abu Bakr Ibn Abd al-Qadir al-Razi. Mukhtar Shihhah. Beirut: Dar al-Fikr, 2006.

Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Qudamah. Al-Mughny. 3rd ed. Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1997.

Najwah, Nurun. “Fenomena ‘Mahram Haji’ Di Indonesia.” Jurnal Asy-Syir’ah 42, no. Ii (2008): 315–142.

Nashir al-Islam al-Ramfury. Al-Banayah Fi Syarh Al-Hidayah. 2nd ed. Beirut: Dar al-Fikr, 1990.

Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005.

Syamsuddin Muhammad Ibn al-Khathib al-Syarbini. Mughni Al-Muhtaj Ila Ma`rifati Ma`ani Al-Faz Al-Minhaj. Beirut: Dar al-Ma`rifah, 1997.

Syamsyuddin al-Sarakhsy. Al-Mabsuth Beirut. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993.

Syarifuddin, Amir. Garis-Garis Besar Fiqh. Jakarta: Kencana, 2003.

Ulya, Atiyatul. “Konsep Mahram Jaminan Keamanan Atau Pengekangan Perempuan.” Al-Fikr 17, no. 1 (2013): 245–55.

Wahbah al-Zuhaili. Mausu`ah Al-Fiqh Al-Islamy Wa Qadhaya Al-Mu`ashirah. Damaskus: Dar al-Fikr, 2010.

Yūsuf al-Qaradhāwī. Min Hady Al-Islam Fatawa Mu`ashirah. Beirut: Al-Maktab al-Islamy, 2000.


Article Statistic

Abstract view : 16 times
PDF views : 19 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Hamdani Hamdani

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.